JEMAAT ZAMAN SEKARANG MENURUT KISAH PARA RASUL 4: 32-35

JEMAAT ZAMAN SEKARANG

MENURUT KISAH PARA RASUL 4: 32-35

 

BAB I      : PENDAHULUAN……………………………………………………………………………….2

BAB II     : CARA HIDUP  JEMAAT POSTMODERN……………………………………………3

  1. Masalah-Masalah Dalam Jemaat…………………………………………………………………………4
  2. Peran Firman Tuhan Dalam jemaat……………………………………………………………………..4

BAB III   : JEMAAT MULA-MULA……………………………………………………………………..5

  1. Kesatuan Jemaat………………………………………………………………………………………………5
  2. Saling Memberkati…………………………………………………………………………………………..6
  3. Pengatan dalam iman……………………………………………………………………………………….7

BAB IV   : CARA HIDUP JEMAAT ZAMAN SEKARANG YANG RELIGIUS……….8

BAB V     : KESIMPULAN………………………………………………………………………………….10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Di setiap kehidupan berjemaat, pastilah tidak terlepas dari sebuah persekutuan. Di dalam persekutuan ada suatu tujuan yang pasti yaitu membangun Iman yang telah diberikan Tuhan kepada umat-Nya. Iman harus mempunyai dampak di dalam kehidupan berjemaat, bukan pada zaman dahulu ketika Rasul-Rasul masih ada dan meneguhkan kepercayaan mereka, namun pada zaman post modern saat ini. Persekutuan yang diharapkan oleh Tuhan yaitu mempunyai kesatuan hati dan fikiran yang saling melengkapi antara jemaat yang satu dengan ang lain.

Jika dilihat jemaat-jemaat pada zaman postmodern saat ini, apakah masih ada kesatuan hati, fikiran dan jiwa untuk saling membantu, menopang, memperhatikan dan meneguhkan antara jemaat satu dengan yang lainnya?. Pertanyaan ini yang sering muncul dalam suatu persekutuan pada zaman ini. Jika tidak maka, hal ini akan menimbulkan suatu masalah dalam tubuh berjemaat sehingga akan timbul perpecahan sehingga tidak memperhatikan saudara seimannya. Ketika ketika jemaat beribadah hanya sebatas kerutinitasan saja dan tidak ada kasih antara jemaat satu dengan jemaat yang lainnya maka dalam beribadah ada rasa hampa.

Hal ini sering menjadi suatu masalah dalam kehidupan berjemaat. Kebanyakan dalam kehidupan berjemaat pada zaman ini, umat Tuhan tidak terlalu memikirkan saudara-saudara disekelilingnya (individualis).  Jika sikap ini dipertahankan bisa saja akan terjadi suatu kekeringan secara Rohani yang dirasakan oleh setiap jemaat dan tidak ada pengaplikasian di dalam kehidupan mereka sehari-hari terkhusus dalam persekutuan di dalam Tuhan. Saling memperhatikan saudara-saudara seiman dan memberikan bantuan, adalah bukti dari hasil iman kepercayaan yang dari pada Allah.

Disini penulis akan melihat masalah-masalah yang dihadapi jemaat pada zaman postmodern, apakah mereka sehati atau sejiwa dalam beribadah dan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh? Ataukan masih ada di dalam jemaat yang hampir sama dengan jemaat mula-mula!. Ketika melihat masalah seperti ini, maka penulis ingin membandingkan dengan cara hidup jemaat postmodern dengan cara hidup jemaat mula-mula yang ada di kitab Kisah Para Rasul 4:32-35. Apakah jemaat zaman sekarang masih hidup dalam kesatuan untuk saling tolong-menolong dalam sudut pandang jasmani dan kerohanian mereka! Disini penulis akan melihat masalah-masalah yang terjadi dan membandingkannya dengan cara hidup jemaat pada zaman Para Rasul.

 

BAB II

CARA HIDUP  JEMAAT ZAMAN SEKARANG

 

Pada era zaman sekarang atau Postmodern saat ini, jika dilihat ketika jemaat mula-mula bersekutu dan jemaat sekarang, sedikit berbeda. Hal ini bisa dilihat dari sudut pandang relasi antara jemaat satu dengan jemaat yang lain. Perubahan di dalam dunia kekristenan dan kesibukan yang semakin padat yang dihadapi oleh jemaat, membuat mereka tidak memberikan perhatian kepada saudara seiman dalam satu persekutuan. ada beberapa hal yang membuat mereka melakukan hal ini yaitu:

 

  1. a.      Masalah-Masalah Dalam jemaat

Yang pertama ialah sikap individualis, sikap ini menunjukkan akan tidak kesatuan antara manusia satu dengan yang lain. Jemaat terkadang beribadah untuk menjadikan berkat bagi dirinya sendiri. Keadaan ini tidak mendukung relasi simpati dan empati antara jemaat yang satu dengan yang lain (berjalan sendiri-sendiri). akibat dari tindakan ini ialah, tidak adanya saling membangun iman dan kesatuan  untuk terus bersandar kepada Kristus.

Kedua ialah modernisasi. modernisasi membuat manusia bisa melakukan segala sesuatu dengan cepat, praktis dan siap digunakan apapun yang ia mau. Persekutuan dalam jemaat, seharusnya modernisasi memudahkan untuk bisa bersekutu dan mempererat persatuan didalam jemaat, namun dengan adanya hal ini, menjauhkan setiap pribadi untuk bisa saling tolong menolong. Terkadang jemaat dengan adanya modernisasi membuat mereka lebih menjauhkan diri mereka dengan jemaat yang lain. Mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang lain bukan saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Ketiga, perkerjaan yang padat. Berbagai bidang pekerjaan yang dilakukan oleh setiap jemaat pada saat ini, membuat waktu mereka tersita untuk pekerjaan yang mereka lakukan. Waktu yang diperlukan untuk bekerja dan bersekutu dengan saudara seiman terkadang lebih digunakan untuk bekerja. Hal ini mengakibatkan setiap jemaat tidak adanya kesatuhatian untuk bersama-sama saling memberikan pertolongan antara jemaat satu dengan yang lainnya. Kehidupan jemaat yang seperti ini tidak akan ada relasi antara satu dengan yang lain sehingga akan menunjukkan batasan-batasan di dalam jemaat. Terkadang mereka datang ketempat ibadah hanya sebagai rutinitas sebagai orang Kristen saja, namun jika menyadari akan kebutuhan untuk saling menguatkan antara jemaat satu dengan yang lain akan berbeda dalam suasana ibadah yang mereka lakukan.

Keempat, Tingkatan kekeyaan yang terjadi dalam jemaat. Di dalam berjemaat, pastilah ada jemaat yang mampu ataupun jemaat yang kurang mampu (miskin). Terkadang hal ini memisahkan antara jemaat yang kaya dengan jemaat yang miskin, hal ini disebabkan karena adanya suatu tingkatan kasta yang berbeda sehingga yang miskin malu untuk bisa bersosialisi dengan yang kaya, demikian sebaliknya. Terkadang yang kaya ingin mempererat kesatuan dengan jemaat yang kurang mampu, namun terkadang yang miskin masih mempunyai rasa minder sehingga tidak adanya kesatuan.

  1. b.      Peran Firman Tuhan Dalam Jemaat

Firman Tuhan sangat penting di dalam sebuah Gereja, Firman Tuhan berpengaruh besar dalam mengembangkan spiritual jemaat sehingga Firman Tuhan harus terus memberikan dukungan dalam penyatuan hati setiap umat Tuhan.  Firman yang disampaikan haruslah bisa dipahami oleh jemaat terkhusus dalam suatu persekutuan perihal kesatuan dalam jemaat sehingga didalam jemaat tersebut ada kesinambungan yang positif  untuk membangun kerohanian jemaat dalam berelasi antara satu dengan yang lainnya.

Kerohanian jemaat hanya bisa di pupuk berdasarkan Firman Tuhan yang benar, dalam hal ini, jemaat yang kurang dalam kerohaniannya, haruslah di didik secara mendalam apa arti dan peran Firman Tuhan dalam penggembalaan imannya.[1] Peran yang sangat Vital ini haruslah dibarengi dengan respon jemaat yang mau diubahkan dalam konsep pemikiran yang salah dan mau dibenarkan berdasarkan kebenaran yang sejati (Firman)

Kebenaran yang diberikan kepada setiap jemaat-Nya mempunyai suatu hukum yang mutlak untuk saling mengasihi. Dalam Firman Tuhan, hukum  kasih yang terutama ialah mengenai kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hati setiap orang yang percaya dan kuhum kasih yang kedua, haruslah mengasihi manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. hal ini haruslah diaplikasihkan dalam jemaat sekarang ini walaupun masih terlalu banyak tantangan yang mereka hadapi. Dalam hal mengasihi ini harus diwujudkan dalam bentuk perhatian yang positif antara jemaat satu dengan yang lain. Ketika jemaat tidak mementingkan urasan pribadi secara signifikan, maka jemaat bisa memberikan kasih dan akan terwujud kesatuan di dalamnya sehingga ada keharmonisan dalam berjemaat. Disini akan terlihat bagaimana perbadingan jemaat masa sekarang dan masa jemaat mula-mula.

 

 

BAB III

JEMAAT MULA-MULA

 

Dalam Kisah Para Rasul 4: 32-35, menjelaskan menganai cara hidup Jemaat yang saling tolong-menolong antara jemaat yang berkelimpahan kepada jemaat seiman yang kekuatan. Pada intinya semuanya hal ini dilakukan berdasarkan akan kepercayaan, kesatuan dan kesaksian para rasul untuk menguatkan iman mereka. Dengan adanya hal ini, membuat jemaat tidak ada yang kekuarangan.

Perikop ini juga memberikan suatu ringkasan yang lain mengenai sifat persekutuan Kristen yang mula-mula itu yang serupa  dengan yang terdapat dalam 2: 42-47. Salah satu ciri khas yang menonjol dari yang dipenuhi roh ini ialah  kesatuan. Suatu ringkasan yang bersatu yang termenifestasi dalam saling membagi kekayaan, untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Kristen yang Miskin.[2] Orang-orang yang kaya dalam konteks ini, menjual seluruh milik kepunyaannya baik rumah atau ladangnya lalu dipersembahkan uang itu untuk dipakai bersama (membantu saudara-saudara seimannya yang kekurangan dalam hal makanan). Para rasul mengawasi akan pelayanan kasih ini, yang dilaksanakan bukan azas kesetaraan, namun kepada azasa pribadi.

 

  1. a.      Kesatuan jemaat

Pada KPR 4 ayat 32, menjelasakan mengenai kesatuan hati dan jiwa jemaat yang sangat luar biasa, meskipun pada saat itu ada perlawanan dari Sanhendrin[3]. kepercayaan mereka berdasarkan akan pengetahuan mereka mengenal akan Kristus dan kesatuan hati untuk terus mempertahankan iman mereka tetap teguh. Hal ini ditegaskan dengan adanya turunnya Roh Kudus di tengah-tengah mereka yang terus memperkuat umat Tuhan. Firman Tuhan yang dikatakan Para Rasul mendiami hati mereka. Meskipun mereka lebih dahulu telah menerangkan akan kekristenan, maka semuanya yang ada tempat itu adalah umat yang unik dan khas karena semua yang dimilikinya adalah milik bersama.[4]

Cacatan ini juga merujuk pada Markus 12:31 yang menyatakan mengenai mengasihi sesama. “Love your neighbor as yourself,” kata neighbor ini bisa di terjemahkan sasamamu manusia atau tetangga, namun penulis tetap setuju dengan tengga dalam konteks Kisah Para Rasul, karena mereka semua saling membantu dengan tetangga mereka yang percaya.

Kekuatan akan ikatan persaudaraan antara jemaat satu dengan yang sangatlah kuat, dengan tegas Lukas di sini menyatakan bahwa yang dibawa oleh orang-orang untuk di persembahkan adalah milik mereka dengan kesukarelaan dalam Roh kudus. dengan hal seperti ini, orang-orang yang mempunyai kekayaan dengan tulus hati mempersembahkan kepada Tuhan agar dipakai bersama. Lukas juga menegaskan kata “tidak seorang pun,” mempunyai makna kesatuan dalam Gereja Yerusalem pada saat itu. “tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama,” merujuk pada pasal 2:44, bahwa Lukas terpengaruh mengenai perkataan Petrus dalam hari Pentakosta. Lukas memberikan ilustrasi yang lebih unik lagi dengan berawalnya ditengah-tengah mereka ada suatu kuasa yang terus menggerakkan mereka untuk terus bersatu.

Umat Kristen membagi semua yang mereka kumpulkan dengan penuh kasih dan kerelaan hati. Mereka memiliki konsep bahwa melik mereka adalah milik bersama. Kesatuan mereka tidak membeda-bedakan kesetaraan mengenai tingkatan antara tuan dan budak, orang miskin atau orang kaya, yang ada di dalam setiap hati mereka adalah untuk berkumpul bersama menyembah Tuhan dan membantu saudara-saudara yang tidak mampu. Orang Yahudi dan non-Yahudi tidak ada konflik ketika mereka berkumpul bersama dalam bersekutu. Kebersamaan mereka membangkitkan dan meneguhkan iman antara satu dengan yang lain.

 

  1. b.      Kesaksian Para Rasul dan mengenai kasih kasunia

Ayat 33 menjelaskan mengenai kebutuhan akan kerohanian dan kebutuhan akan jasmaniah mereka telah tercukupi dalam jemaat tersebut. Setiap orang yang percaya mengajak umat yang lain membantu saudara yang kekurangan secara meterial, pada saat itu juga rasul-rasul bersaksi mengenai Kristus (the apostles proclaim Christ’s gospel). Terutama ketika mereka berdoa, para rasul  pada waktu yang tepat dan terus terang bersaksi mengenai kebangkita Tuhan Yesus dari antara orang mati. Dalam ayat inilah Lukas menegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Jesus is God’s). Perkataan para rasul yang dipenuhi Roh Kudus secara terus terang memperkuat iman para jemaat pada saat itu. Lukas juga menekankan perkataan para rasul yaitu the apostles were giving witness to the resurrection of the Lord Jesus.” Bahwa para rasul adalah saksi dari kebangkita Yesus. Akhir dari kalimat ayat ini yang di tekankan adalah kasih karunia (great power with much grace). Kata “Grace” menunjukkan bahwa Tuhan memberkati semua yang percaya kepada-Nya berdasarkan kasih karunia pada saat itu. Namun di  dalam NAB (New american Bible ) tidak ada “Grace.” Sebenarnya kata ini sangat penting namun NAB memfokuskannya hanya pada kebaikan Allah saja.

menurut john Calvin, “grace” secara siknifikan tidak memperkecil atau memperbesar mengenai doktrin Anugerah, dalam menolong orang miskin. Jemaat mula-mula juga memberikan topangan tangan atau bantuan kepada orang-orang yang tidak di kenal namun percaya kepada Kristus.[5] Oleh karena itu, mereka menunjukkan alasan dalam sebuah kata-kata sehingga tidak ada yang kekurangan. Meskipun mereka tidak membutuhkan keragu-raguan dalam iman mereka, tapi mereka hidup sederhana, sopan, sabar, sering berbuat baik,dan menghasilkan banyak keteladanan.

  1. c.       Saling memberkati

Pada ayat 34-35 ini, Lukas sedikit sekali membahas mengenai ibadah atau gereja mula-mula tentang kesatuan jemaat.  Pada ayat ini hampir sama dengan KPR 2: 44-45 pada hari pentakosta. Dimana mencatatkan pengikut Kristus pada awalnya sering menjual barang miliknya dan memberikannya kepada kaum miskin.[6] tapi negara menyalurkan dan membangun, sehingga uang yang diperoleh Rasul-Rasul diberikan kepada yang membutuhkan.  Disini ada beberapa aspek dimana jemaat yang berkelimpahan menjual barang miliknya seperti yang pertama, memnjual tanah atau rumahnya, dan yang kedua mendirikan suatu posko untuk menampung dana yang akan di berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya serta membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin pada saat itu. Jika dilihat dari sudut pandang kerohanian, orang-orang yang yang dibantu, juga kekurangan berkat kerohanian, namun mereka juga mendapat berkat-Nya secara terus menerus melewati pemberitaan kesaksian yang diberikan Rasul-Rasul kepada mereka. Mereka melakuaknnya atas dasar ketaatan kepada Para Rasul yang ada di tempat itu. Dengan hal demikian tidak ada seorangpun di antara mereka yang kekurangan baik secara jasmaniah dan kerohanian yang terus dibimbing agar tetap kokoh dalama Kristus Yesus yang mereka percayai.

Secara keseluruhan, Disini sedikit juga menjelaskan mengenai ibadah di kota yerusalem mengenai hari pentakosta dan awal penganiyaan yang akan mereka alami yang terbukti diawali dengan Zaman Stefanus. Karena ada penafsiran Stefanus juga ikut dalam pelayanan untuk membantu orang-orang miskin pada saat itu.

 

BAB IV

CARA HIDUP JEMAAT ZAMAN SEKARANG YANG RELIGIUS

Jika dilihat dari kehidupan jemaat mula-mula yang penuh persatuan dan kesehatian, maka jemaat sekarang pun harus juga bisa hidup sama seperti jemaat mula-mula. Hal yang perlu diperhatikan dalam mencapai kesatuan dalam jemaat ialah diawali dengan saling mengasihi. Kasih adalah sumber dari segala sesuatu untuk bisa mengembangkan tali persaudaraan dalam Kristus. Kasih akan menimbulkan penerimaan anggota satu dengan yang lain dan membantu saudara seiman yang kekurangan karena adanya kasih. Kasih ini memberikan dampak yang positif untuk memberi kesehatian sehingga mereka akan menganggap miliknya sendiri adalah milik bersama.[7] Bukan dalam arti secara keseluruhan milik bersama, namun ada batasannya yaitu apa yang diperlukan orang lain hendaknya  yang “berkelebihan” memberikannya kepada orang lain seperti membantu saudara seiman dengan dengan sukarela ayat 32.

Ketekunan dalam pertumbuhan iman melalui Firman Tuhan adalah sentral dari mempertahankan suatu kesatuan dalam jemaat. Ketika Firman Tuhan diajarkan kepada Jemaat, bagaimana pentingnya menolong sesama dari pada diri sendiri adalah suatu hal yang benar. Dengan Firman, jemaat diajarkan untuk bisa mengerti kebutuhan sesamanya sehingga ada perasaan untuk saling membantu antara jemaat satu dengan yang lainnya. Firman Tuhan akan menegur jika setiap jemaat tidak melakukan perintanh-Nya dan memberikan penguatan iman jika setiap orang yang percaya melakukan kebaikan dan membantu saudara seiman-Nya dan bahkan orang yang tidak percaya sekalipun. Dengan kebangkitan Kristus adalah kesaksian dimana seseorang telah dimenangkan oleh Kristus dari setiap dosa dan mempunyai kewajiban yaitu mengerjakan keselamatan, terkhusus bagi Rasul yaitu memberitakan Injil. Demikian juga dengan jemaat, mereka bisa memberitakan Injil dengan membantu saudara-saudaranya memalui bantuan-bantuan harta benda yang mereka miliki. Dalam hal ini, jemaat harus menghancurkan sikap individualis, mementingkan diri sendiri dan sedikit meluangkan waktui untuk membantu saudara yang kesusahan. Segala sesuatu yang diberikan oleh manusia berasal dari Tuhan, dengan demikian telah tertanam konsep kasih karunia sehingga apa yang manusia dapat dari Allah, harus disalurkan kepada orang lain, sehingga semua manusia yang percaya dapat merasakan akan kasih Allah dan menambah kesatuan dalam berjemaat. Dalam hal ini tidak boleh membeda-bedakan antara jemaat satu dengan jemaat yang lainnya.

Secara kongkrit manusia sebenarnya mempunyai permasalah  yang berbeda-beda, baik permasalah kerohanian dan permasalahan secara jasmaniah. Secara jasmaniah dalam kehidupan jemaat pasti ada yang mampu (berkelebihan) dan yang miskin (berkekurangan). Masalah seperti ini harus diselesaikan dengan sikap saling menolong antar jemaat satu dengan yang sesuai kemampuannya. Hal ini bertujuan agar jemaat Allah saling menopang satu dengan yang lain sehingga bisa bertumbuh bersama dalam kesatuan. Ketika membantu, seorang jemaat harus mengerti dulu apa yang dibutuhkan saudara tersebut, memang benar-benar kekurangan sehingga nantinya tidak ada suatu kesalahfahaman mengenai kebutuhan. Dalam memberikan suatu barang haruslah melalui seorang yang berada didalam gereja untuk diatur sedemikian rupa menurut kebutuhan tiap-tiap orang. Jika dilihat dari jemaat mula-mula, mereka selalu membantu orang-orang yang kesusahan dengan kasih  dan ketulusan yang mendalam, oleh sebab itu, jika memberikan haruslah dengan penuh kasih dan motivasi yang benar yaitu untuk mencapai kesatuan yang utuh dalam Kristus. Secara kerohanian ialah dengan memberikan penguatan satu dengan yang lain melalui iman. Jika seorang jemaat mempunyai masalah yang dihadapi, maka jemaat yang lain wajib menolong dan menopangnya untuk mencapai jalan keluar yang pasti sehingga semua jemaat bisa bertumbuh secara bersama-sama.

Saling merendahkan antara satu dengan yang lain adalah suatu sikap yang sangat penting, karena menghilangkan sikap individulais yang telah melekat pada manusia, jika jemaat satu menganggap jemaat yang lain penting, maka akan ada sikap mengahargai satu dengan yang lain, inilah yang sebanrnya diharapkan jemaat pada zaman sekarang. Mungkin tingkat perekonomian dan derajat pendidikan berbeda. Ada yang pandai dan ada yang sederhana, namun jika ada sikap seperti ini dalam hidup berjemaat pada dasarnya tidak ada kesenjangan secara siknifikan.

Jika hal ini dilakukan, dalam hidup berjemaat pasti tidak ada suatu kesusahan baik sacara finansial maupun kerohanian sehingga yang ada di dalam hidup berjemaat hanya ada kasih dan persatuan yang kokoh. Kesehatian dan perasaan yang peka terhadp satu dengan yang lain akan menimbulkan rasa persaudaraan yang begitu kuat. Kekuatan ini akan menjadikan suatu patokan untuk membangun umat Tuhan lebih baik lagi dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak ada kesusahan yang mendalam dan yang ada adalah kasih.

 

 

BAB

KESIMPULAN

Melalui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jemaat zaman sekarang kebanyakan telah kehilangan panggilannya untuk bisa melayani satu dengan yang lain. Hal ini di sebabkan oleh banyak faktor dianataranya, individualis, modernisme, pekerjaan dan sebagainya, sehingga menimbulkan kesenjangan terhadap terhadap jemaat satu dengan yang lain yang sebenarnya di butuhkan.

Juka dilihat dari berdirinya jemaat mula-mula yang terdapat dalam Kiasah Para Rasul, mereka dapat bersatu sehati untuk saling menolongantara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena mereka percaya sungguh-sungguh dengan Injil yang telah di sampaikan oleh Rasul-Rasul. Mereka saling menjual tanah dan rumahnya untuk membantu saudaranya yang sedang mengalami kesusahan ditambah lagi dengan kesaksian Para Rasul mengenal kebangkitan Yesus, makin kuatlah Iman mereka.

Dengan demikian, jemaat sekarang harus bisa hidup seperti Zaman jemaat mula-Mula sehingga dalam jemaat sekarang mempunyai hati untuk bisa membantu baik secara finansial maupun kerohanian. Hal ini bisa terjadi jika ada kasih dan dorongan untuk membantu saudara-saudara yang miskin. Dengan demikian, jika dilakukan akan menimbulkan kesatuan dan kesatuhatian dalan berjemaat. Hal yang bisa di capai yaitu relasi yang baik antar jemaat dan bersama-sama bertumbuh dalam Iman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

 

Brink, DS. H. v.d. Tafsiran alkitab Kisah Para Rasul. Malang: Bpk Gunung Mulia, 1967.

Calvin,  John. Commentary on Acts – Volume 1. Michigan: Grand Rapids, 1999.

Dixon, R. Tafsiran Kisah Para Rasul .Malang: Gandum Mas, 1981.

Getz, Gene A.. Saling Membangun Bagaimana Setiap Anggota Jemaat Dapat Menolong Dan Memperkuat Sesamanya. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993.

H.alim, Dr. Makmur. Gereja Di Tengah-Tengah Perubahan Dunia Malang: Gandum Mas.

Pfeiffer, Charles F.. Tafsiran Alkitab Wycliffe.Malang: Gandum Mas, 2001.

 

William, Kistemaker, Simon J. ; Hendriksen,: New Testament Commentary : Exposition of the Acts of the Apostles. Grand Rapids : Baker Book House, 1953-2001 (New Testament Commentary 17), S. 174

 


[1] Dr. Makmur Halim. Gereja Di Tengah-Tengah Perubahan Dunia (Malang: Gandum Mas)243.

[2] Charles F. Pfeiffer. Tafsiran Alkitab Wycliffe.(Malang: Gandum Mas, 2001)416.

[3] DS. H. v.d Brink. Tafsiran alkitab Kisah Para Rasul (Malang: Bpk Gunung Mulia, 1967) 77. Sanhendirn adalah majelis pengadilan Yahudi.

[4] Kistemaker, Simon J. ; Hendriksen, William: New Testament Commentary : Exposition of the Acts of the Apostles. Grand Rapids : Baker Book House, 1953-2001 (New Testament Commentary 17), S. 174

 

[5] John Calvin. Commentary on Acts – Volume 1 (Michigan: Grand Rapids, 1999)

[6] R. Dixon. Tafsiran Kisah Para Rasul (Malang: Gandum Mas, 1981)28

[7] Gene A. Getz. Saling Membangun Bagaimana Setiap Anggota Jemaat Dapat Menolong Dan Memperkuat Sesamanya (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993)27.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: